URBAN FARMING DI DENPASAR: SOLUSI INOVATIF UNTUK KETAHANAN PANGAN DAN KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN

 

URBAN FARMING DI DENPASAR: SOLUSI INOVATIF UNTUK KETAHANAN PANGAN DAN KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN

 

Asriadi*

*Nim P042241018, Universitas Hasanuddin, Makassar, asriadiriadi26@gmail.com

 

Abstrak

Urban farming merupakan pendekatan inovatif untuk mengatasi tantangan urbanisasi, degradasi lingkungan, dan ancaman ketahanan pangan di Denpasar, Bali. Konsep ini berfokus pada pemanfaatan lahan terbatas untuk produksi pangan lokal yang sehat, memadukan teknologi modern seperti hidroponik dan vertikultur dengan tradisi lokal seperti sistem subak. Urban farming tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan tetapi juga memberikan dampak sosial, ekonomi, dan budaya melalui pelestarian tradisi lokal dan penguatan komunitas. Inisiatif ini didukung oleh kebijakan pemerintah, kolaborasi komunitas lokal, dan integrasi dengan sektor pariwisata untuk menciptakan model kota berkelanjutan. Artikel ini membahas bentuk-bentuk urban farming, seperti pemanfaatan pekarangan rumah dan pertanian atap, serta peluang dan tantangannya dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan keberhasilan yang dicapai, urban farming di Denpasar dapat menjadi model inspiratif bagi kota-kota lain di Indonesia.

 

Kata Kunci: Urban Farming,Ketahanan Pangan, Keberlanjutan Lingkungan, Denpasar

 

Latar Belakang

Masalah ekonomi adalah masalah terbesar di setiap negara termasuk Indonesia. Di Indonesia, masalah di Indonesia bukan hanya bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana membuat pertumbuhan ekonomi terdistribusi secara merata di setiap pulau. Pertumbuhan ekonomi yang tidak merata akan menyebabkan ketidaksetaraan dalam tingkat pertumbuhan ekonomi dan ketidaksetaraan dalam tingkat pendapatan masyarakat (Arsal et al., 2020). Jumlah penduduk yang meningkat, kekurangan pangan, keamanan pasokan bahan pangan, dan perubahan iklim adalah masalah global yang semakin menjadi perhatian. Di negara berkembang, pertanian perkotaan digunakan untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk perkotaan. Kecuali untuk ekosistem lautan, program pertanian perkotaan menerapkan seluruh tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dalam hal pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ketenagakerjaan, ketersediaan makanan, kesejahteraan masyarakat, tingkat pendidikan, peran perempuan, dan struktur komunitas adalah indikator sosial dalam tujuan pembangunan sosial SDGs pertanian perkotaan (Yudiarini et al., 2017)

Fenomena ini terjadi hampir di seluruh Bali, dan yang paling banyak terjadi di Denpasar. Ini disebabkan oleh pertumbuhan pariwisata yang tidak terkendali, dan konversi lahan pertanian menjadi fasilitas pariwisata, persaingan air minum dan irigasi. Ini menyebabkan pergeseran sumber daya manusia dari pertanian ke pariwisata. Wilayah Denpasar terbatas sehingga konsep pertanian tradisional sangat sulit dilakukan di daerah perkotaan (Sardiana, 2018). Sementara itu, konversi lahan dari pertanian ke non-pertanian tidak dapat dibendung akibat kebutuhan pembangunan warga. Tidak ada cukup aturan perencanaan tata ruang dan perlindungan pertanian berkelanjutan di semua wilayah. Urban farming merupakan salah satu solusi untuk mengatasi fenomena tersebut. Urban farming di Denpasar telah berkembang sebagai salah satu strategi untuk mengatasi tantangan urbanisasi, degradasi lingkungan, dan ancaman terhadap ketahanan pangan. Sebagai ibu kota Provinsi Bali, Denpasar menghadapi tekanan yang tinggi akibat pertumbuhan populasi dan kebutuhan ruang perkotaan. Lahan hijau yang dulunya melimpah semakin terdesak oleh pembangunan, sehingga urban farming hadir sebagai solusi inovatif untuk memanfaatkan lahan yang terbatas secara optimal (Idpo et al., 2023).

Kebutuhan pangan di Denpasar sebagian besar dipenuhi dari pasokan luar Bali, seperti dari Pulau Jawa dan Lombok. Ketergantungan ini membuat Denpasar rentan terhadap gangguan distribusi yang dapat memengaruhi stabilitas pangan local (Pratiwi et al., 2020). Urban farming memberikan alternatif dengan memungkinkan warga memproduksi sebagian kebutuhan pangan mereka sendiri, terutama sayuran dan rempah-rempah, langsung dari pekarangan rumah atau ruang terbatas lainnya. Urban farming di Denpasar juga berakar pada pelestarian tradisi lokal, seperti sistem irigasi subak, yang telah menjadi identitas budaya Bali. Dalam konteks urban farming, subak diadaptasi untuk mendukung pertanian modern di lahan kecil (Abdillah et al., 2023). Misalnya, irigasi tradisional digabungkan dengan teknologi hidroponik untuk menciptakan kebun produktif di area perkotaan. Hal ini tidak hanya menjaga nilai budaya tetapi juga memberi solusi berkelanjutan dalam menghadapi tantangan modernisasi.

Program urban farming mendapatkan dorongan kuat dari Pemerintah Kota Denpasar melalui berbagai kebijakan, seperti pelatihan bagi masyarakat, bantuan alat hidroponik, dan promosi melalui pasar local (Gunarsa et al., 2021). Pemerintah juga menjalin kerja sama dengan komunitas lokal dan lembaga swadaya masyarakat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pertanian kota. Kolaborasi ini berhasil menjadikan urban farming sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan di Denpasar. Selain manfaat lingkungan, urban farming juga memberikan dampak sosial dan ekonomi. Kegiatan ini mampu meningkatkan penghasilan warga dengan menjual hasil panen di pasar lokal atau secara daring. Urban farming juga memperkuat ikatan komunitas melalui kegiatan bersama, seperti pelatihan atau pengelolaan kebun komunitas. Generasi muda diperkenalkan pada konsep pertanian perkotaan, yang tidak hanya mengajarkan keterampilan bercocok tanam tetapi juga menumbuhkan kesadaran lingkungan (Sumantra & Martiningsih, 2022).

Keberhasilan urban farming di Denpasar juga didukung oleh inovasi teknologi. Hidroponik dan vertikultur menjadi metode yang populer karena efisien dalam penggunaan air dan lahan (Lanya et al., 2018). Teknik ini cocok untuk kota yang memiliki ruang terbatas, seperti Denpasar. Banyak warga telah memanfaatkan atap rumah atau dinding untuk menanam sayuran, menciptakan kebun mini yang produktif di tengah kota. Urban farming di Denpasar tidak hanya menjadi solusi atas masalah urbanisasi tetapi juga model keberlanjutan yang bisa diadopsi oleh kota lain. Dengan mengintegrasikan teknologi modern dan tradisi lokal, Denpasar telah menunjukkan bahwa pertanian kota bukan hanya alat untuk ketahanan pangan, tetapi juga cara untuk membangun kota yang lebih hijau, sehat, dan berdaya secara sosial serta ekonomi (Riska Wulandari et al., 2023).

Jenis Urban Farming di Denpasar

1.   Pemanfaatan Pekarangan Rumah

Pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan untuk urban farming telah menjadi tren yang berkembang di Denpasar, Bali. Hal ini didorong oleh kebutuhan masyarakat perkotaan untuk memiliki akses langsung ke sumber pangan yang sehat, segar, dan berkelanjutan (Setiawan & Latifa, 2023). Dengan luas lahan yang semakin terbatas di tengah urbanisasi yang pesat, pekarangan rumah menjadi solusi strategis untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan, seperti sayuran, rempah-rempah, dan buah-buahan. Pekarangan rumah di Denpasar tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat menanam tanaman pangan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan rekreasi keluarga. Banyak keluarga di Denpasar mulai menanam tanaman hidroponik atau vertikultur yang mudah dirawat di ruang kecil. Aktivitas ini melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak, sehingga menjadi kegiatan yang bermanfaat untuk memperkuat ikatan keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan (Yuliarmi, 2022)

Salah satu metode yang populer dalam urban farming di pekarangan rumah adalah hidroponik. Metode ini cocok untuk lahan yang terbatas karena tidak memerlukan tanah sebagai media tanam. Tanaman hidroponik seperti selada, bayam, dan kangkung banyak ditemukan di pekarangan rumah di Denpasar (Novianti & Sukerti, 2023). Selain efisien dalam penggunaan air, hasil panen tanaman hidroponik juga lebih cepat dibandingkan metode tradisional. Selain hidroponik, vertikultur juga menjadi pilihan populer di Denpasar. Dengan memanfaatkan dinding rumah atau rak vertikal, warga dapat menanam berbagai jenis tanaman tanpa memakan banyak ruang. Teknik ini tidak hanya praktis tetapi juga memberikan nilai estetika, menjadikan pekarangan rumah tampak lebih hijau dan menarik (Yudiarini, 2023). Banyak rumah di Denpasar kini memiliki taman vertikal yang memadukan fungsi estetika dan produktivitas. 

Urban farming di pekarangan rumah di Denpasar juga didukung oleh program pemerintah. Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Pertanian sering memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang cara bercocok tanam di pekarangan rumah (Wiadnyana & Mulyani, 2020). Selain itu, pemerintah juga menyediakan bibit tanaman dan alat pertanian sederhana untuk mendukung inisiatif ini. Program ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan lokal dan memperkuat ekonomi keluarga. Hasil dari pemanfaatan pekarangan rumah ini tidak hanya digunakan untuk konsumsi pribadi, tetapi juga untuk dijual di pasar lokal. Banyak warga Denpasar yang mulai memasarkan hasil panen dari kebun rumah mereka, seperti sayuran organik, cabai, atau tanaman herbal. Hal ini memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga, sekaligus mendukung ketersediaan pangan sehat di pasar lokal (Indrawati et al., 2024). 

Pemanfaatan pekarangan rumah juga berdampak positif terhadap lingkungan. Dengan menanam tanaman, warga membantu mengurangi polusi udara dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan (Handriatni, 2022). Tanaman yang ditanam di pekarangan rumah juga membantu mengurangi efek urban heat island (peningkatan suhu akibat beton dan aspal di perkotaan), menciptakan suasana yang lebih sejuk di sekitar rumah. Kegiatan urban farming di pekarangan rumah juga berkontribusi pada pelestarian tradisi lokal. Banyak warga Denpasar yang menanam tanaman khas Bali, seperti bunga kamboja untuk upacara adat, serta tanaman herbal seperti sereh dan kunyit yang sering digunakan dalam masakan dan pengobatan tradisional (Armansyah et al., 2024). Hal ini menjadikan urban farming tidak hanya relevan secara ekonomi dan lingkungan, tetapi juga secara budaya. 

Kendati banyak manfaatnya, pemanfaatan pekarangan rumah untuk urban farming di Denpasar menghadapi beberapa tantangan. Tidak semua warga memiliki akses ke informasi atau alat yang diperlukan untuk memulai urban farming (Rokhmat et al., 2024). Selain itu, beberapa wilayah di Denpasar memiliki keterbatasan air bersih, yang menjadi kendala dalam pengelolaan tanaman. Namun, dengan edukasi yang terus berlanjut dan dukungan dari pemerintah, tantangan ini dapat diatasi. Secara keseluruhan, urban farming di pekarangan rumah telah membawa dampak positif yang signifikan di Denpasar. Dengan memanfaatkan ruang yang kecil namun strategis, warga dapat meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi dampak lingkungan, dan mendukung pelestarian tradisi lokal. Inisiatif ini tidak hanya menginspirasi kota lain, tetapi juga menunjukkan bahwa pertanian perkotaan adalah langkah penting menuju keberlanjutan (Devi et al., 2023). 

2.   Integrasi dengan Pariwisata

Urban farming di Denpasar tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dengan sektor pariwisata. Sebagai kota di pulau wisata terkenal, Denpasar memiliki peluang untuk mengembangkan konsep wisata berbasis pertanian perkotaan (Rika Widianita, 2023). Wisatawan dapat diajak untuk memahami bagaimana masyarakat lokal mengelola sumber daya terbatas di perkotaan untuk menghasilkan produk pangan yang sehat dan berkelanjutan. Pekarangan rumah yang dimanfaatkan untuk urban farming dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama yang mencari pengalaman unik dan otentik. Wisatawan dapat diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan seperti menanam, memanen, atau belajar tentang teknik hidroponik dan vertikultur. Aktivitas semacam ini tidak hanya memberikan pengalaman yang menarik tetapi juga edukasi tentang pentingnya pertanian berkelanjutan. 

Urban farming juga berpotensi menjadi bagian dari ekowisata di Bali. Dengan memadukan konsep hijau dan tradisi lokal, wisatawan dapat merasakan nuansa budaya Bali yang khas sambil menikmati keindahan kebun-kebun kecil di lingkungan perkotaan. Banyak warga Denpasar yang menanam tanaman khas Bali, seperti bunga kamboja dan tanaman herbal, yang sering digunakan dalam upacara adat (Victor Kurniawan Yuwono et al., 2024). Hal ini dapat menambah nilai budaya dalam pengalaman wisata. Beberapa restoran dan kafe di Denpasar telah memanfaatkan hasil urban farming lokal sebagai bagian dari konsep mereka. Dengan menawarkan makanan berbahan dasar hasil panen lokal, tempat-tempat ini memberikan pengalaman kuliner yang segar dan sehat bagi wisatawan. Label “farm-to-table” menjadi daya tarik tambahan, terutama bagi wisatawan yang peduli pada kesehatan dan keberlanjutan. 

Integrasi urban farming dengan pariwisata juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Wisatawan yang tertarik dapat membeli hasil panen langsung dari kebun atau produk olahan seperti teh herbal, sambal, atau jamu. Hal ini memberikan peluang ekonomi baru bagi pelaku urban farming di Denpasar, sekaligus mendukung perekonomian lokal secara keseluruhan. Program wisata berbasis urban farming juga dapat memanfaatkan teknologi modern untuk memperluas jangkauan. Misalnya, penggunaan media sosial untuk mempromosikan kebun perkotaan atau menyediakan tur virtual yang memungkinkan wisatawan melihat proses pertanian dari jarak jauh. Teknologi ini membantu memperkenalkan konsep urban farming Denpasar kepada pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan internasional (Pangan et al., 2024).

Keberhasilan integrasi ini membutuhkan dukungan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pemerintah Kota Denpasar dapat menyediakan fasilitas, seperti pelatihan bagi warga lokal tentang cara mengelola wisata urban farming. Selain itu, kerja sama dengan agen perjalanan atau platform wisata daring dapat membantu memasarkan konsep ini kepada wisatawan domestik dan mancanegara. Integrasi urban farming dengan pariwisata juga berperan dalam mempromosikan Denpasar sebagai kota yang berkelanjutan. Wisatawan yang berkunjung dapat melihat bagaimana kota ini berupaya mengatasi tantangan urbanisasi melalui inisiatif yang mendukung ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Hal ini memberikan citra positif bagi Denpasar sebagai destinasi yang peduli pada keberlanjutan (Sedana et al., 2017). 

Namun, integrasi ini menghadapi tantangan seperti kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan wisata urban farming dan keterbatasan infrastruktur. Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang konsisten dan investasi dalam fasilitas pendukung untuk menjadikan urban farming sebagai bagian yang terintegrasi dengan pariwisata. Dengan potensi yang besar, integrasi urban farming dengan pariwisata di Denpasar dapat menjadi model inovatif bagi kota lain di Indonesia. Tidak hanya menciptakan pengalaman unik bagi wisatawan, tetapi juga membantu memperkuat ketahanan pangan lokal, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Urban farming menjadi bukti bahwa pertanian dan pariwisata dapat saling melengkapi dalam membangun masa depan yang lebih hijau (Halim et al., 2023).

Bentuk Urban Farming di Denpasar

1.   Kebun Subak Modern di Denpasar Utara:

Denpasar Utara dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih mempertahankan sistem irigasi tradisional subak, meskipun urbanisasi terus berkembang. Subak adalah sistem pengelolaan irigasi tradisional Bali yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO (Darmawan et al., 2023). Namun, untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan masa kini, konsep subak mulai diadaptasi menjadi kebun subak modern, yang mengintegrasikan teknologi pertanian dengan prinsip tradisional yang sudah lama dijalankan. Kebun subak modern di Denpasar Utara dirancang untuk memaksimalkan produktivitas lahan dengan menggunakan teknik pertanian yang efisien, seperti hidroponik dan aeroponik. Teknologi ini memungkinkan petani untuk menghasilkan panen yang lebih banyak dengan penggunaan air yang lebih sedikit, sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya subak (Sujana et al., 2019). Modernisasi ini tidak hanya meningkatkan hasil pertanian tetapi juga membantu melestarikan system subak sebagai bagian dari identitas budaya Bali.

Selain berfokus pada produktivitas, kebun subak modern juga dirancang untuk keberlanjutan lingkungan. Dengan menggunakan pupuk organik dan teknik pertanian ramah lingkungan, kebun ini mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem setempat (Putu Riska et al., 2023) . Penggunaan teknologi modern, seperti sensor tanah dan sistem irigasi otomatis, memungkinkan pengelolaan air yang lebih efisien, sehingga dapat menjaga keberlanjutan sumber daya air yang menjadi inti dari sistem subak. Keberadaan kebun subak modern juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Petani di Denpasar Utara mendapat pelatihan untuk mengadopsi teknologi baru, yang tidak hanya meningkatkan keterampilan mereka tetapi juga membuka peluang ekonomi. Hasil panen dari kebun ini tidak hanya untuk konsumsi lokal, tetapi juga dijual di pasar domestik dan diekspor, memberikan pendapatan tambahan bagi para petani (Pratiwi et al., 2023).

 

Gambar. 1. Ilustrasi Kebun Subak Modern

2.   Rooftop Farming di Denpasar Timur

Rooftop farming atau pertanian atap mulai mendapat perhatian di Denpasar Timur sebagai salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di wilayah perkotaan. Sebagai bagian dari area yang terus berkembang dengan dominasi pemukiman dan bangunan komersial, Denpasar Timur menghadapi tantangan minimnya ruang terbuka hijau (Halim & Wahyuni, 2022). Rooftop farming menawarkan cara inovatif untuk memanfaatkan atap bangunan yang tidak terpakai, menjadikannya lahan produktif untuk menanam tanaman pangan atau dekoratif. Konsep rooftop farming di Denpasar Timur banyak diaplikasikan di rumah-rumah warga, kafe, serta fasilitas umum seperti sekolah dan perkantoran. Dengan teknik seperti hidroponik dan vertikultur, rooftop farming memungkinkan tanaman tumbuh tanpa membutuhkan lahan yang luas. Beberapa jenis tanaman yang populer untuk dibudidayakan di atap adalah sayuran daun seperti selada, bayam, kangkung, dan tanaman herbal seperti mint serta basil (Liu & Tao, 2020) 

Rooftop farming di Denpasar Timur memberikan manfaat lingkungan yang signifikan. Tanaman di atap membantu mengurangi suhu lingkungan sekitar melalui proses fotosintesis, menciptakan efek pendinginan yang mengurangi panas berlebih di perkotaan (Parwata & Wirya Sastrawan, 2021). Selain itu, rooftop farming juga membantu menyerap air hujan, mengurangi beban pada sistem drainase kota, dan meningkatkan kualitas udara dengan menyerap polutan. Selain manfaat lingkungan, rooftop farming juga memiliki dampak ekonomi bagi warga Denpasar Timur. Banyak keluarga yang memanfaatkan hasil panen dari kebun atap mereka untuk konsumsi pribadi, sehingga mengurangi pengeluaran rumah tangga. Beberapa warga bahkan menjual hasil panen mereka di pasar lokal atau melalui platform online, memberikan penghasilan tambahan yang signifikan (Made et al., 2022).

 

Gambar 2. Ilustrasi Rooftop Farming

 

Kelebihan dan Kekurangan Urban Farming di Denpasar

1.   Kelebihan

Berikut adalah kelebihan urban farming di Denpasar:

a.   Integrasi dengan Budaya Lokal:

Konsep urban farming sering digabungkan dengan tradisi lokal Bali seperti subak, sehingga mudah diterima masyarakat. Urban farming di Denpasar memiliki keunikan tersendiri karena mampu mengintegrasikan tradisi lokal Bali, seperti sistem subak (Pratiwi, 2018). Subak, yang merupakan sistem irigasi tradisional khas Bali, diadaptasi ke dalam pertanian perkotaan dengan menambahkan teknologi modern seperti hidroponik. Integrasi ini tidak hanya membuat urban farming lebih relevan secara lokal, tetapi juga memperkuat identitas budaya Bali di tengah modernisasi. Dukungan dari tradisi ini menjadikan urban farming mudah diterima oleh masyarakat. 

b.   Potensi Pariwisata:

Wisatawan dapat mengunjungi kebun-kebun urban farming, menjadikannya daya tarik wisata baru. Denpasar sebagai kota wisata memiliki daya tarik tambahan melalui urban farming. Kebun-kebun urban farming tidak hanya menjadi sumber pangan tetapi juga destinasi wisata edukatif. Wisatawan dapat melihat langsung bagaimana masyarakat memanfaatkan lahan terbatas untuk bertani, belajar teknik hidroponik atau vertikultur, dan bahkan mencoba menanam tanaman sendiri. Hal ini memberikan pengalaman unik yang memperkaya wisata berbasis budaya dan lingkungan di Bali (Permatasari, 2022)

c.   Dukungan Pemerintah dan Komunitas:

Pemerintah Denpasar aktif memberikan pelatihan dan bantuan, sementara komunitas lokal turut menggerakkan inisiatif ini. Pemerintah Kota Denpasar aktif memfasilitasi urban farming melalui pelatihan, pemberian bibit tanaman, hingga bantuan alat bercocok tanam (Agung et al., 2024). Kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan masyarakat. Selain itu, komunitas lokal juga berperan penting dalam mendorong inisiatif ini. Komunitas pertanian perkotaan, seperti kelompok ibu-ibu PKK atau komunitas hijau, sering kali mengadakan kegiatan bersama seperti pelatihan bercocok tanam dan bazar hasil panen. 

2.   Kekurangan

Berikut adalah beberapa kekurangan urban farming di Denpasar (Yuliarmi, 2022): 

a.   Keterbatasan Lahan

Meskipun urban farming bertujuan memanfaatkan ruang terbatas, banyak warga Denpasar, terutama di wilayah perkotaan padat seperti Denpasar Timur, tidak memiliki cukup ruang untuk memulai pertanian di rumah mereka. Hal ini menjadi kendala utama dalam memperluas adopsi urban farming. 

b.   Keterbatasan Pengetahuan dan Teknologi

Tidak semua masyarakat memahami teknik-teknik urban farming, seperti hidroponik, vertikultur, atau aquaponik. Pengetahuan tentang perawatan tanaman, pemilihan bibit, dan pengelolaan hasil panen masih minim, sehingga banyak yang merasa kesulitan untuk memulai. Akses terhadap teknologi modern juga masih terbatas bagi sebagian besar warga. 

c.   Biaya Awal yang Relatif Tinggi

Metode urban farming seperti hidroponik atau penggunaan rak vertikal memerlukan investasi awal yang cukup besar, terutama untuk membeli alat, bibit, atau nutrisi tanaman. Hal ini dapat menjadi penghalang bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang ingin mencoba urban farming.

 

Daftar Pustaka

Abdillah, A., Widianingsih, I., Buchari, R. A., & Nurasa, H. (2023). Implications of urban farming on urban resilience in Indonesia: Systematic literature review and research identification. Cogent Food and Agriculture, 9(1). https://doi.org/10.1080/23311932.2023.2216484

Agung, I. G. N., Putu, N., Widanti, T., Ayu, I., Sri, P., & Bidul, S. (2024). Peran Pemerintah Kota Denpasar dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Konservasi SDA : Kebijakan dan Strategi. 4(2), 312–324.

Armansyah, A., Giyarsih, S. R., Fathurohman, A., Soetrisno, A. L., Zaelany, A. A., Setiawan, B., Saputra, D., Haqi, M., & Lamijo, L. (2024). Urban Farming sebagai Alternatif Mewujudkan Pembangunan Kota Berkelanjutan di Indonesia. Jurnal Kawistara, 14(1), 38. https://doi.org/10.22146/kawistara.84324

Arsal, A., Karim, I., Salman, D., Fahmid, I. M., Mahyudin, & Amiruddin, A. (2020). Social capital and maize farmers’ income. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 575(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/575/1/012101

Darmawan, D. P., Arisena, G. M. K., Djelantik, A. A. A. W. S., Krisnandika, A. A. K., Utari, N. K. S., & Korri, N. T. L. (2023). Farmers’ Independence Level in the Urban Area of Subak Sembung Denpasar City, Bali Province, Indonesia. Journal of Agricultural Sciences - Sri Lanka, 18(1), 40–54. https://doi.org/10.4038/jas.v18i1.10097

Devi, K., Anggria, K., Taqiyyaa, P. P., Agung, A., & Eddy, N. (2023). Peningkatan Pengetahun Remaja tentang Urban Farming Bibit Cabai Sebagai Langkah Mitigasi Inflasi Volatile food di Denpasar Chili Seeds Urban Farming Edification as a Mitigation Step on Volatile food Inflation in Denpasar.

Gunarsa, G., Pandawani, N. P., Arnawa, I. K., & Sumantra, I. K. (2021). URBAN FARMING PALNNING DEVELOPMENT OF HOUSEHOLD SCALE HYDROPONIC SYSTEMS IN URBAN AREA Author. International Jornal Of Sustainability, Education, and Global Creative Economic, 4(2), 128–136.

Halim, D. K., Ervina, E., Permatasari, D. N. C., & Astuti, N. N. S. (2023). Integrative Digital Platform Based on Collaborative Governance Model for Green Tourism Village in Bali. Environment-Behaviour Proceedings Journal, 8(26), 409–417. https://doi.org/10.21834/e-bpj.v8i26.5108

Halim, D. K., & Wahyuni, A. (2022). Feasibility of rooftop solar PV program for 9 tourism villages towards green village development in Bali. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1027(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/1027/1/012030

Handriatni, A. (2022). Deversifikasi Tanaman Pangan Melalui Pemodelan Urban Farming, Menuju Ketahanan Pangan Yang Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional Feb Unikal, 1135–1141.

Idpo, S., Widhianthini, Arisena, G. M. K., Sukewijaya, I. M., & Krisnandika, A. A. K. (2023). Status of Agriculture Resources Sustainability and Agricultural Policy in Denpasar City, Province of Bali, Indonesia. African Journal of Food, Agriculture, Nutrition and Development, 23(3), 22694–22710. https://doi.org/10.18697/ajfand.118.21875

Indrawati, M., Sudiana, A. A. K., & Sumantra, I. . (2024). Ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Denpasar dan strategi pengelolaannya. Bioculture Journal, 1(2), 87–99. https://doi.org/10.61511/bioculture.v1i2.2024.414

Lanya, I., Subadiyasa, N., Sardiana, K., & Ratna Adi, G. P. (2018). Planning of Agro-Tourism Development, Specific Location in Green Open Space Sarbagita Area, Bali Province. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 123(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/123/1/012038

Liu, Y., & Tao, H. (2020). Strategic Sustainability Plan in Denpasar 2040. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 526(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/526/1/012009

Made, I., Narayana Dita, H., Kadek, I., Wijaya, M., & Nyoman Warnata, I. (2022). Perencanaan dan Perancangan Fasilitas Wisata Pertanian di Denpasar-Bali. Jurnal Ilmiah Arsitektur Universitas Warmadewa, 10(1), 43–52. https://ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/undagi/index

Novianti, K. D. P., & Sukerti, N. K. (2023). Pemanfaatan Pemasaran Digital sebagai Media Penjualan Produk Pertanian Perkotaan oleh Kelompok Tani Empelan Terbin. WIDYABHAKTI Jurnal Ilmiah Populer, 5(2), 27–33. https://doi.org/10.30864/widyabhakti.v5i2.362

Pangan, K., Adat, D., Kuta, K., Badung, K., Eka, P., Ariati, P., Widnyana, I. K., Wijaya, I. M. W., Putu, D., & Prasiasa, O. (2024). Penerapan Teknologi Urban Farming dan Aquaponik untuk Meningkatkan. Jurnal Aplikasi Dan Inovasi Teknologi, 6(1), 201–208.

Parwata, I. W., & Wirya Sastrawan, I. W. (2021). Undagi : Jurnal Ilmiah Arsitektur Universitas Warmadewa. Jurnal Ilmiah Arsitektur Universitas Warmadewa, 9(1), 105–113. https://ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/undagi/index

Permatasari, I. (2022). Peran Model Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) Dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism) di Bali. Kertha Wicaksana, 16(2), 164–171. https://doi.org/10.22225/kw.16.2.2022.164-171

Pratiwi, L. P. K. (2018). Strategi Pengembangan Ekowisata Dalam Upaya Mendukung Pemberdayaan Petani Di Perkotaan. Jurnal Bakti Saraswati, 07(02).

Pratiwi, L. P. K., Masyarakat, P., Pertanian, M. E., Studi, B., Pada, L., Sembung, S., Denpasar, K., Sukanteri, N. P., Budiasa, I. M., Arnawa, I. K., Dewi, G. P., & Pasman, B. (2023). Community Service Through Agricultural Education Based On Field Studies In Subak Sembung, Denpasar City. JIPM:Jurnal Informasi Pengabdian Masyarakat, 1(4). https://doi.org/10.47861/jipm-nalanda.v1i4.561

Pratiwi, L. P. K., Yudiarini, N., Wiadnyana, I. W., & Mulyani, S. (2020). The Role of Ecotourism in Supporting Empowerment of Urban Farmers in Denpasar City. International Journal of Suistainability, Education, and Global Creative Economic (IJSEGCE), 3(2), 430–440. http://journals.segce.com/index.php/IJSEGCE/article/view/148%0Ahttps://journals.segce.com/index.php/IJSEGCE/article/download/148/149

Putu Riska, Saskara, I. A. N., Yasa, I. G. . M., & Marhaeni, A. A. I. N. (2023). The Role of Institutional Factors in the Sustainable Development of Farming Businesses in Subak, Depsasar City. International Journal of Multidisciplinary Research and Analysis, 06(02), 499–504. https://doi.org/10.47191/ijmra/v6-i2-06

Rika Widianita, D. (2023). IMPLEMENTASI SISTEM LUBANG RESAPAN BIOPORI. AT-TAWASSUTH: Jurnal Ekonomi Islam, VIII(I), 1–19.

Riska Wulandari, P., Ayu Nyoman Saskara, I., Gusti Wayan Murjana Yasa, I., & Agung Istri Ngurah Marhaeni, A. (2023). Betting Scenario for Sustainability of Farming Bussines in Urban Areas. Review of Economics and Finance, 21(9), 2738–2746.

Rokhmat, A., Susanto, A., Rosmiati, D., & Cahyani, F. (2024). SISTEM LUBANG RESAPAN BIOPORI DI DESA PEGUYANGAN KANGIN. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1), 1–6.

Sardiana, I. K. (2018). The Study of Development of Urban Farming Agrotourism Subak-Irrigation-Based in Sanur Tourism Area, Denpasar City, Bali. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies, 6(1), 33–40. https://doi.org/10.21776/ub.jitode.2018.006.01.05

Sedana, G., Arjana, B. M., & Sudiarta, I. N. (2017). Potensi Subak Dalam Pengembangan Ekowisata: Kasus Subak Sembung di Kelurahan Peguyangan , Kecamatan Denpasar Utara , Kota Denpasar ISSN : 1979-3901. DwijenAGRO, 8(1), 113–122. http://103.207.99.162/index.php/dwijenagro/article/view/638%0Ahttp://103.207.99.162/index.php/dwijenagro/article/view/638/593

Setiawan, B., & Latifa, A. (2023). Maintaining Good Health and Well Being through Urban Farming. 2022, 23–30.

Sujana, M., Tamba, M., & Sukerta, M. (2019). Profil subak di daerah perkotaan (Studi Kasus Subak Buaji Kelurahan Kesiman Kecamatan Denpasar Timur). Agrimeta, 9(17), 47–52. http://e-journal.unmas.ac.id/index.php/agrimeta/article/view/426%0Ahttps://e-journal.unmas.ac.id/index.php/agrimeta/article/download/426/411

Sumantra, K., & Martiningsih, N. G. A. G. E. (2022). Land Conservation and the Potential Goal for Food Security in Urban City. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1111(1). https://doi.org/10.1088/1755-1315/1111/1/012046

Victor Kurniawan Yuwono, Fabiola Leoparjo, Devina Irtanto, Kristian Agung Nugraha, & Otje Herman Wibowo. (2024). Diversifikasi Ekonomi di Pulau Bali dalam Perspektif Pariwisata. Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business, 4(3), 1128–1144. https://doi.org/10.54373/ifijeb.v4i3.1524

Wiadnyana, I., & Mulyani, S. (2020). PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN BERBASIS ECO-EDU-SPIRITUAL- TOURISM SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PERKOTAAN (Studi Kasus: Tukad Bindu, Desa Kesiman, Kota Denpasar). Ganec Swara, 14(2), 785–792. http://journal.unmasmataram.ac.id/index.php/

Yudiarini, N. (2023). Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengelolaan Limbah Pertanian Berbasis Zerowaste dalam Menunjang Pengembangan Edutourism Subak Perkotaan. Cakrawala: Jurnal …, 2(4), 326–339. https://jurnaluniv45sby.ac.id/index.php/Cakrawala/article/view/1764

Yudiarini, N., Windia, W., Darmawan, D. P., & Suamba, I. K. (2017). Conceptual Framework of Urban Farming:A Case Study in Denpasar-Bali-Indonesia. Journal of Economics and Sustainable Development Www.Iiste.Org ISSN, 8(18), 184–189. www.iiste.org

Yuliarmi, N. N. (2022). Strategi Peningkatan Mutu Pertanian Perkotaan Di Prov. Bali. Jurnal Penjaminan Mutu, 8(1), 1–6. http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/JPM/article/view/756

 

 

Comments